CANDI BOROBUDUR TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR DAN SEBAGAI ASET NEGARA INDONESIA SERTA SALAH SATU WARISAN DUNIA “

 

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

            Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa Pengasih dan Penyayang karena berkat rahmat-Nya yang melimpah penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan waktu yang sudah ditentukan sebagaimana mestinya. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penulis tidak akan sanggup untuk menyelesaikan pembuatan laporan sebagai tugas ujian akhir sekolah pada bidang studi Bahasa Indonesia yang berjudul “ CANDI BOROBUDUR TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR DAN SEBAGAI ASET NEGARA INDONESIA SERTA SALAH SATU WARISAN DUNIA

            Penulis tentu menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis memohon masukan berupa kritik dan saran dari pembaca guna laporan ini dapat menjadi lebih baik lagi. Laporan ini penulis sajikan dengan bahasa yang sederhana dan lugas sehingga pembaca mudah memahaminya.

Penulis harap dengan menulis laporan ini dapat meningkatkan pengetahuan pembaca tentang materi yang disampaikan. Laporan ini disusun berdasarkan sumber - sumber dan narasumber yang terpercaya, jadi penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu pengerjakan laporan ini. Semoga laporan ini bisa dijadikan tolak ukur untuk kedepannya.

OM Shanti Shanti Shanti OM

 

Denpasar, Agustus 2019

 

                                    Penulis




BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar belakang

Pendidikan sangat penting untuk setiap orang karena pendidikan itu sendiri menyangkut masa depan, serta merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab seorang guru, pemerintah, masyarakat maupun orangtua. Namun semua lapisan masyarakat Indonesia juga ikut bertanggung jawab atas terwujudnya pendidikan nasional. Yakni dengan menjalankan tugas sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab yang merupakan upaya untuk terwujudnya pendidikan nasional yang bermutu tinggi dan berbudi pekerti luhur.

Sebab itulah untuk mewujudkannya ada beberapa kegiatan yang menunjang pendidikan, salah satunya adalah karya wisata. Dengan karya wisata, siswa dapat lebih mengetahui kondisi ditempat dan tidak hanya melihat dikoran, internet maupun buku saja. Terutama bangunan – bangunan bersejarah guna agar para siswa tidak melupakan sejarah Indonesia, salah satunya adalah Candi Borobudur.

Candi Borobudur tidak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga bangunan berunsur kebudayaan yang menjadi kebanggaan Indonesia dan juga sudah mendapat predikat sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepatutnya turut berbangga dan menjaga kelestarian dari Candi Borobudur ini, baik masyarakat asli maupun wisatawan.

 

1.2  Rumusan Masalah

Dalam penelitian karya tulis ini ada 3 ( tiga ) rumusan masalah yang dapat diungkap, yaitu :

1.2.1         Bagaimana sejarah dari Candi Borobudur ?

1.2.2        Bagaimana dampak Candi Borobudur terhadap masyarakat sekitar ?

1.2.3        Bagaimana proses Candi Borobudur menjadi salah satu keajaiban dunia dan salah satu aset negara ?

 

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian pada karya tulis ini, yaitu :

1.3.1        Untuk mengetahui lebih dalam sejarah dari Candi Borobudur.

1.3.2        Untuk mengetahui dampak Candi Borobudur terhadap masyarakat sekitar.

1.3.3        Untuk mengetahui proses Candi Borobudur menjadi salah satu keajaiban dunia dan salah satu aset negara.

 

1.4  Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian pada karya tulis ini, yaitu :

1.4.1 Dapat mengetahui lebih dalam sejarah dari Candi Borobudur.

1.4.2 Dapat mengetahui dampak Candi Borobudur terhadap masyarakat sekitar.

1.4.3 Dapat mengetahui Candi Borobudur menjadi salah satu keajaiban dunia dan salah satu aset negara.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Candi

        Candi berasal dari kata candhika grha yang berarti rumah Dewi Candika, yaitu Dewi maut atau Dewi kematian Durga, oleh karena itu candi selalu dihubungkan dengan monumen tempat pendharmaan untuk memuliakan raja yang telah meninggal. Candi merupakan bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Budha. Istilah candi tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, tetapi juga sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya (Daniel Agus Maryanto, 2007: 8). Soekmono (1977: 241) menegaskan bahwa candi bukanlah makam, tetapi bangunan kuil. Yudoseputro (1933: 118) mengemukakan bangunan candi sebagai bangunan suci di India sendiri tidak dipakai. Bangunan kuil tempat menyelenggarakan upacara agama Hindu di India dikenal dengan sebutan vimanna yang berarti rumah dewa atau ratha yang berarti kendaraan dewa, sedangkan untuk keperluan ibadah Budha di India dikenal dengan sebutan stupa. Di Indonesia bangunan suci Budha disebut candi. Sebutan candi di Indonesia menunjuk bangunan yang memiliki bermacam-macam fungsi yaitu candi yang berfungsi sebagai kuil Hindu, candi sebagai stupa dan bihara Budha, candi sebagai pintu gerbang, dan candi sebagai bale kambang.

Berdasarkan pendapat para ahli disimpulkan bahwa candi adalah monumen peringatan meninggalnya raja atau kerabatnya. Candi merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Hindu Budha di Indonesia. Beberapa candi di kecamatan Kalasan memberikan inspirasi kepada masyarakat bahwa daerah ini dulu tentunya merupakan daerah subur penuh keindahan dengan berbagai khasanah budaya yang menunjukkan kekayaan penciptanya.

 

2.2 Pengertian Warisan Dunia

Situs Warisan Dunia UNESCO (bahasa InggrisUNESCO’s World Heritage Sites) adalah sebuah tempat khusus (misalnya, Taman NasionalHutanPegununganDanauPulauGurun PasirBangunanKompleksWilayahPedesaan, dan Kota) yang telah dinominasikan untuk program Warisan Dunia internasional yang dikelola UNESCO World Heritage Committee, terdiri dari 21 kelompok (21 state parties) yang dipilih oleh Majelis Umum (General Assembly) dalam kontrak 4 tahun. Sebuah Situs Warisan Dunia adalah suatu tempat Budaya dan Alam, serta benda yang berarti bagi umat manusia dan menjadi sebuah Warisan bagi generasi berikutnya.

Program ini bertujuan untuk mengkatalog, menamakan, dan melestarikan tempat-tempat yang sangat penting agar menjadi warisan manusia dunia. Tempat-tempat yang didaftarkan dapat memperoleh dana dari Dana Warisan Dunia di bawah syarat-syarat tertentu. Program ini diciptakan melalui Pertemuani Mengenai Pemeliharaan Warisan Kebudayaan dan Alamiah Dunia yang diikuti di oleh Konferensi Umum UNESCO pada 16 November 1972.

 

 


BAB III

METODELOGI PENELITIAN

 

3.1  Waktu dan Tempat Penelitian

                  Waktu yang digunakan dalam penelitian ini sampai dengan pembuatan laporan dari tanggal 21 Juni 2019 sampai dengan 21 Juli 2019. Tempat penelitianya adalah di Candi Borobudur ( observasi ).

 

3.2  Jenis dan Sumber Data

            Sesuai dengan permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan jenis data kualitatif. Sedangkan sumber datanya adalah sumber data primer (melalui observasi lapangan) dan sumber data sekunder ( literatur dan dokumen-dokumen ).

 

3.3  Teknik Pengumpulan Data

              Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari :

3.3.1 Metode Observasi, yaitu data-data yang diperoleh melalui pengamatan langsung di lingkungan masyarakat.

3.3.2 Metode Interview, yaitu data-data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara. 3.3.3 Metode Literatur, yaitu data-data dapat diperoleh dari beberapa buku / literatur.

 

3.4  Teknik Penyajian Data

3.4.1        Reduksi Data  : Merangkum data secara umum       

3.4.2        Induksi Data   : Sajian data secara khusus       

3.4.3        Verifikasi Data : Paparan data disertai dengan kenyataan di lapangan

 

3.5  Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif, yaitu mengungkap permasalahan berdasarkan data yang disertai dengan argumentasi penulis.



BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1  Mengenal Lebih Dalam Candi Borobudur Melalui Sejarahnya

    Nama Candi Borobudur sendiri berasal dari kata bara dan budur. Dalam istilahnya, “bara” memiliki arti kompleks biara dan kata “budur” yang mempunyai arti atas. Yang kemudian, jika digabungkan menjadi kata barabudur dibaca borobudur yang berarti kompleks biara di atas.                                                                                                                                                                           Sesuai dengan namanya juga, Candi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit sebagai komplek biara yang sungguh megahnya. Candi Borobudur merupakan salah satu Candi terbesar di Indonesia. Candi borobudur merupakan salah satu Candi Buddha yang terletak di Magelang, provinsi Jawa Tengah. Candi Borobudur terletak kurang lebih 40 km di sebelah barat laut kota jogja. Dengan kendaraan umum, mobil dan sepeda motor hanya memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan dari kota Jogja.

Candi Borobudur di bangun pada masa penganut ajaran Buddha Mahayana tepatnya sekitar tahun 750-800 an Masehi. Belum jelas benar mengenai bukti sejarah Candi Borobudur. Hanya beberapa prasasti yang mungkin sedikit menyinggung tentang Candi Borobudur. Mengenai pembangunan diduga Candi Borobudur dirancang oleh seorang arsitek terkenal pada masa itu bernama Gunadharma. Ada sebuah prasasti yang dianggap berkaitan erat dengan asal usul Candi Borobudur. Prasasti tersebut bernama Prasasti Sri Kahuluan yang berangka tahun 842 masehi yang menyebutkan “Kawulan i Bhumi Sambhara”. Bumi shambara diduga merupakan nama lain dari borobudur. Tidak ada bukti sejarah yang pasti mengenai kapan tepatnya sejarah Candi Borobudur ini runtuh dan ditinggalkan.

 Candi Borobudur pun masuk dalam 7 keajaiban dunia, selain karena menjadi yang terbesar, Candi Borobudur menjadi Candi Buddha yang tertua karena di bangun jauh sebelum Candi Angkor Wat di Kamboja yang masih baru dibangun kira-kira pada pertengahan abad ke-12 oleh Raja Suryavarman II. Dinasti Sailendra membangun peninggalan Budha terbesar di dunia antara 780-840 Masehi. Dinasti Sailendra merupakan dinasti yang berkuasa pada masa itu. Peninggalan ini dibangun sebagai tempat pemujaan Budha dan tempat ziarah. Tempat ini berisi petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju pencerahan dan kebijaksanaan menurut Buddha. Peninggalan ini ditemukan oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 dibawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.

Borobudur dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Struktur bangunan ini berbentuk kotak dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari luar hingga ke dalam terbagi menjadi dua bagian yaitu alam dunia yang terbagi menjadi tiga zona di bagian luar, dan alam Nirwana di bagian pusat.

Zona 1: Kamadhatu

alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang. 


      Kamadhatu terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Menggambarkan mengenai sifat dan nafsu manusia, seperti merampok, membunuh, memperkosa, penyiksaan, dan fitnah. Tudung penutup pada bagian dasar telah dibuka secara permanen agar pengunjung dapat melihat relief yang tersembunyi di bagian bawah. Koleksi foto seluruh 160 foto relief dapat dilihat di Museum Candi Borobudur yang terdapat di Borobudur Archaeological Park.

Zona 2: Rupadhatu


alam peralihan, dimana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia.

         Rapadhatu terdiri dari galeri ukiran relief batu dan patung buddha. Secara keseluruhan ada 328 patung Buddha yang juga memiliki hiasan relief pada ukirannya.

     Menurut manuskrip Sansekerta pada bagian ini terdiri dari 1300 relief yang berupa Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Seluruhnya membentang sejauh 2,5 km dengan 1212 panel.

Zona 3: Arupadhatu


alam tertinggi, rumah Tuhan.

     Tiga serambi berbentuk lingkaran mengarah ke kubah di bagian pusat atau stupa yang menggambarkan kebangkitan dari dunia. Pada bagian ini tidak ada ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.

            Serambi pada bagian ini terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng terbalik, berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdapat 72 stupa secara keseluruhan. Stupa terbesar yang berada di tengah tidak setinggi versi aslinya yang memiliki tinggi 42m diatas tanah dengan diameter 9.9m. Berbeda dengan stupa yang mengelilinginya, stupa pusat kosong dan menimbulkan perdebatan bahwa sebenarnya terdapat isi namun juga ada yang berpendapat bahwa stupa tersebut memang kosong.

Relief

            Secara kesulurhan terdapat 504 Buddha dengan sikap meditasi dan enam posisi tangan yang berbeda di sepanjang candi.


Koridor Candi       

            Selama restorasi pada awal abad ke 20, ditemukan dua candi yang lebih kecil di sekitar Borobudur, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut yang segaris dengan Candi Borobudur. Candi Pawon berada 1.15 km dari Borobudur, sementara Candi Mendut berada 3 km dari Candi Borobudur. Terdapat kepercayaan bahwa ada hubungan keagamaan antara ketiga candi tersebut namun masih belum diketahui secara pasti proses ritualnya.

            Ketiga candi membentuk rute untuk Festival Hari Waisak yag digelar tiap tahun saat bulan purnama pada Bulan April atau Mei. Festival tersebut sebagai peringatan atas lahir dan meninggalnya, serta pencerahan yang diberikan oleh Buddha Gautama.

 

4.2  Dampak Candi Borobudur Terhadap Masyarakat Sekitar


            Perkembangan kawasan wisata Borobudur ini terletak di Desa Borobudur dengan luas wilayah 421 Ha. Sedangkan untuk luas lahan kawasan wisata Candi Borobudur ini adalah 85 Ha. Penggunaan lahan di kawasan wisata Candi Borobudur terdiri dari lahan terbangun,kebun dan sawah.

            Terjadi perubahan penggunaan lahan di dalam kawasan Candi Borobudur yang di tandai dengan adanya penambahan atraksi wisata museum kapal dengan luas sebesar 0,8 hektar. Selain itu perkembangan terjadi dengan adanya penambahan lokasi pedagang kaki lima, di dalam kawasan pariwisata. Penambahan lokasi pedagang kaki lima di maksudkan agar warga sekitar kawsan wisata khususnya masyarakat Desa Borobudur yang belum mempunyai pekerjaan dapat berdagang di lokasi yang telah di sediakan.

            Perubahan guna lahan Desa Borobudur,  terdapat pembagian guna lahan pada kawasan wisata candi borobudur. Pembagian guna lahan tersebut terdiri atas lahan untuk wisata, jasa, kebun, permukiman, pendidikan, perdagangan, ruang terbuka, rumput, sawah dan tegalan.

            Fasiltas pendukung pariwisata yang paling dominan keberadaanya yaitu penginapan. Keberadaan penginapan tidak bisa dipungkiri merupakan salah satu fasilitas pendukung pariwisata yang paling penting, karena wisatawan baik domestik serta mancanegara ingin menikmati keindahan Candi Borobudur dalam waktu lama. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk beristirahat dan berteduh, banyak orang yang memanfaatkan peluang usaha tersebut untuk membuka penginapan di sekitar kawasan wisata Candi Borobudur atau di Desa Borobudur.

            Pengunjung obyek wisata Candi Borobudur dari data Dinas Pariwisata bahwa pengunjung tempat wisata candi borobudur rata rata selalu ramai setiap tahunnya. Masyarakat candi borobudur memiliki ketergantungan yang lemah kepada sektor pariwisata candi borobudur. Tingkat Pendapatan Masyarakat yang bekerja di dalam dan luar sektor berpengasilan berkisar dari 1,5 – 3 juta. Sedangkan untuk masyarakat desa borobudur yang hanya bekerja di dalam sektor berpenghasilan berkisar dari 1,5 – 2 juta, dimana rata-rata masyarakat yang berpenghasilan kurang dari 1,5 juta bekerja sebagai tukang kebun dan pedagang souvenir di dalam kawasan wisata candi borobudur. Untuk masyarakat yang pendapatannya antara 1,5 juta sampai 2 juta dan pendapatan lebih dari 2 juta, rata rata bekerja di dalam kantor PT. Taman Wisata Candi Borobudur.

 

4.3  Proses Candi Borobudur Menjadi Salah Satu Keajaiban Dunia dan Salah Satu Aset Negara

            Setelah selesai di bangun selama 500 tahun, Borobudur merupakan pusat ziarah megah bagi penganut budha. Tetapi dengan runtuhnya mataram sekitar tahun 930M, pusat kekuasaan dan kebudayaan pindah ke Jawa Timur dan Borobudur pun hilang terlupakan, karena gempa dan gunung letusan  Merapi  candi itu melesak mempercepat keruntuhannya. Sedangkan semak belukar tropis tumbuh menutupi Borobudur dan pada abab-abab selanjutnya lenyap di telan sejarah.

            Baru pada abab ke-XVIII M menurut tradisi dalam tanah jawa terdapat beberapa singkat tentang larinya Mas Dana yang memberontak melawan pakubuwanan 1 (1709-1710) dan kemudian ditangkap di Borobudur lima puluh tahun kemudian 1757-1758 seorang pangeran Yogyakarta mengunjungi Borobudur untuk melihat seribu arca.

            Baru dalam tahun 1814 Candi Borobudur dikenal kembali sebagai bangunan purbakala, berkat usaha Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1815) yang memerintahkan mengadakan pembersihan guna menampakannya kembali. Ketika itu yang nampak hanyalah sebuah bukit yang tertutup oleh semak belukar. Hanya disana-sini kelihatan adanya susunan batu. 

            Cornelius, yang mendapat tugas membersihkan Candi Borobudur, mengerahkan tidak kurang dari 200 orang penduduk selama hampir 2 bulan untuk menebangi pohon dan semak dan membakarnya. Runtuhan batu yang memenuhi lorong disingkirkan dan ditimbun disekitar kaki candi, sedangkan tanah yang menimbunnya dibuang ke lereng bukit. Namun pembersihan tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena banyak dinding yang dikhawatirkan runtuh.

            Dalam tahun 1834 Residen Kedua menyuruh bersihkan sama sekali bangunannya sehingga candinya nampak seluruhnya. Sekitar tahun 1850 dilakukan berbagai usaha untuk memindahkan relief Borobudur keatas kertas melalui gambar untuk lebih memperkenalkan lagi bangunan ajaib itu melalui uraian sehingga dalam tahun 1873  terbit monografi yang pertama tentang Candi Borobudur.

            Dalam tahun 1882 ada usul untuk membongkar saja seluruh bangunannya dan memindahkan reliefnya ke suatu museum. Keadaan Candi Borobudur sudah terlalu rusak dan mengkhwatirkan sehingga dirasa sayang kalau relief yang begitu indah itu akan hancur. Usul tadi tidak mendapat sambutan langsung tetapi menimbulkan pikiran untuk mencari usaha menyelamatkan Borobudur itu dari bahaya musnah. Yzerman mengadakan berbagai penyelidikan dan dalam tahun 1885 ia mendapatkan bahwa dibelakang batur kaki candi ada lagi kaki candi lain yang ternyata dihiasi dengan pahatan relief. Batur itu dibongkar sebagian demi sebagian, untuk kemudian ditutup kembali setelah relief tadi diabadikan melalui pemotretan.

            Dalam tahun 1900 terbentuk suatu panitia yang bertugas untuk merencanakan penyelamatan Candi Borobudur. Gagasan seorang anggota untuk melingkupi bangunannya dengan sebuah kubah raksasa dari seng tidak mendapat sambutan. Pun pemikiran lama untuk memindahkan relief Borobudur ke museum tidak mendapat perhatian. Beberapa tahun kemudian (1905) keluarlah putusan pemerintah dari negeri Belanda, yang menyetujui usul dari panitia dan menyediakan biayanya sebesar FI. 48.800. Sebagai pelaksana ditunjuk Van Erp yang sebagai anggota panitia telah mengetahui betul masalahnya.

            Van Erp memulai tugasnya dalam bulan Agustus 1907. Selama 7 bulan pertama dilakukanlah penggalian, baik dibagian atas bangunan maupun dihalaman candi. Sejumlah besar batu candi ternyata dapat melengkapkan berbagai bagian penting candinya sehingga dalam tahun 1809 Van Erp mengusulkan diadakannya tindakan yang merupakan langkah lebih lanjut dari rencananya semula. Usul ini disetujui dengan disertai tambahan biaya sebesar FI. 34.600, sehingga dapat dilakukan restorasi terhadap pagar langkan, dinding lorong pertama, saluran air dibawah bukit, tangga bagian bawah, gapura dan relung beserta stupa kecilnya. Bagian Arupadhatu dengan lingkaran stupanya bahkan dibongkar untuk kemudian dibangun kembali lagi. Demikian pagar langkan yang paling atas.

            Pekerjaan Van Erp selesai dalam tahun 1911. Borobudur telah pulih kembali dalam kemegahannya semula, meskipun masih ada berbagai kekurangannya. Sebuah “controlevoeg” (sambungan pengaman) antara dua buah batu pada bagian dinding yang paling miring disebelah Barat tangga Utara tingkat pertama menjadi petunjuk selanjutnya akan adanya perubahan mengenai keadaan dindingnya. Bilamana “controlevoeg” itu patah, ini berarti Borobudur dalam keadaan bahaya.

            Sebagai lanjutan dari usaha Van Erp secara terus-menerus dilakukan pengamatan baik terhadap keadaan bangunannya maupun terhadap keadaan batu-batunya, sedangkan pada waktu tertentu diadakan pengukuran terhadap kemiringan dindingnya.

            Betapa pentingnya pengamatan yang ketat terbukti kebenarannya sewaktu bulan Januari tahun 1926 dapat diketahui adanya pengrusakan sengaja yang dilakukan oleh beberapa wisatawan asing yang rupanya ingin memiliki tandamata dari Borobudur.

            Peristiwa ini mengakibatkan penelitian terhadap keadaan batu-batuan khusus dari reliefnya. Ternyata banyak relief memperlihatkan retak-retak baru. Timbullah pertanyaan apakah yang menjadi sebab, tangan jahil atau proses alamiah ?

            Akhirnya diberi kesimpulan bahwa retak-retak baru tadi tidak disebabkan karena vandalisme. Pun tidak karena kikisan air dan tumbuhnya lumut ataupun karena besarnya tekanan vertikal. Penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi sebab utama adalah pergantian suhu yang terlalu cepat (panas terik yang segera disusul oleh hujan) yang berlangsung terus-menerus. Bagaimana mencegah pengaruh buruk dari iklim itu tidak dapat diketahui dengan pasti. Maka kenyataan bahwa dari 120 bidang relief Lalitawistara ada 40 yang mengalami kerusakan menimbulkan rasa prihatin khusus pada awal tahun 1929. Penelitian panitia ini menghasilkan kesimpulan akan adanya 3 macam kerusakan, yang masing-masing disebabkan karena

a) korosi

b) kerja mekanis

c) kekuatan tekanan

            Korosi disebabkan karena pengaruh iklim dan sebagian besar dari kerusakan jenis ini terdapat pada batu-batu yag kurang baik kualitasnya. Lapisan oker kuning yang dahulu dimaksudkan untuk meratakan warna relief demi keperluan pemotretan, ternyata menjadi pelindung bagi batu-batu yang keras tetapi sebaliknya menyebabkan batu-batu yang lunak mengelupas.

            Cendawan dan lumut mengakibatkan korosi juga tetapi sebab yang pokok dan terkuat adalah banyaknya air yang keluar dari dalam bangunannya melalui celah batu dan melalui pori-pori batunya sendiri.

            Kerusakan mekanis disebabkan batu-batunnya berupa retak atau kekuatan lain yang berasal dari luar. Terdapatkannya pada bagian relief yang timbul atau menonjol. Sebagian besar mungkin sudah terjadi sebelum pemotretan tahun 1870 atau 1910, tetapi perbandingan foto itu dengan keadaannya dalam tahun 1929 menunjukkan bahwa kerusakan itu telah bertambah.                                                     

            Kerusakan karena tekanan bobot batu-batunya berua retak bahkan pecah-pecah, yang vertikal. Terjadinya kebanyakan pada dinding yang melesak, adapula beberapa tempat yang batunya praktis remuk atau bergeser yaitu pada sambungan horizontal.

        Mengenai tekanan ini dikemukakan bahwa kekuatannya dapat berubah sejalan dengan makin melesaknya bagian dinding. Proses ini lambat sekali tetapi dapat juga berubah cepat bilamana ada gempa bumi.     


            Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran Candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO yang menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat.
Sisanya ditanggung Indonesia.


 Namun pemugaran ini baru benar-benar dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973 karena terjadi peristiwa G-30SPKI. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984 yang diketuai oleh Prof.Ir.Roosseno. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.

 


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 


5.1  Kesimpulan

1.                  Nama Candi Borobudur sendiri berasal dari kata bara dan budur. Dalam istilahnya, “bara” memiliki arti kompleks biara dan kata “budur” yang mempunyai arti atas. Yang kemudian, jika digabungkan menjadi kata barabudur dibaca borobudur yang berarti kompleks biara di atas. Candi borobudur merupakan salah satu Candi Buddha yang terletak di Magelang, provinsi Jawa Tengah. Candi Borobudur di bangun pada masa penganut ajaran Buddha Mahayana tepatnya sekitar tahun 750-800 an Masehi. Dinasti Sailendra membangun peninggalan Budha terbesar di dunia antara 780-840 Masehi. Peninggalan ini dibangun sebagai tempat pemujaan Budha dan tempat ziarah. Peninggalan ini ditemukan oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 dibawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.           

2.                  Dampak Candi Borobudur terhadap masyarakat sekitar disegi ekonomi adalah meningkatnya pendapatan dari penjualan aksesoris atau pernak pernik Borobudur sedangkan dari segi pariwisata dapat menambah lapangan pekerjaan terutama penginapan-penginapan sekitar Candi Borobudur dipenuhi para wisatawan karena banyaknya pengunjung.

3.                  Tahun 1814 Candi Borobudur dikenal kembali sebagai bangunan purbakala, berkat usaha Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1815) yang memerintahkan mengadakan pembersihan guna menampakannya kembali. Ketika itu yang nampak hanyalah sebuah bukit yang tertutup oleh semak belukar. Hanya disana-sini kelihatan adanya susunan batu. Cornelius, yang mendapat tugas membersihkan Candi Borobudur, mengerahkan tidak kurang dari 200 orang penduduk selama hampir 2 bulan untuk menebangi pohon dan semak dan membakarnya. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan Borobudur. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.

 

5.2  Saran

            Sebaiknya generasi muda maupun masyarakat sekitar lebih menjaga lagi kelestarian dan kebersihan Candi Borobudur. Jangan melanggar aturan atau tata tertib yang sudah terpajang disekitar candi baik disengaja maupun tidak disengaja. Selalu hormati perbedaan kebudayaan sehingga tidak menimbulkan perpecahan. 


Laporan Keuangan Excel



Komentar